Tugas guru les bukan hanya mengajar saja. Membuat anak didik memahami mata pelajaran tertentu lalu dibayar dan selesailah tugasnya. Benarkah hanya demikian? Adakah tugas penting lainnya yang diemban guru les selain mengajar?

Guru les privat selayaknya guru yang mengajar di depan kelas. Guru les juga mempunyai tugas mendidik anak didiknya sehingga memiliki kepribadian. Guru les juga harus mendapat penghormatan, bukan hanya dihargai dengan ukuran materi saja.

Dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Syaikh Tajudin Nu’man bin Ibrahim bin Al-Khalil Al-Zarnuji, kitab kuning yang lazim dipelajari di pesantren kalangan NU, disebutkan bahwa posisi guru memiliki tempat yang sangat mulia. Kitab ini menjadi pedoman kalangan santri mempelajari tata cara atau adab yang baik seorang murid mencari ilmu.

Potret berusaha menelusuri fenomena ini dengan menemui ketua PW LP Ma’arif NU Jateng, Drs. H. Mulyani M Noor, M.Pd., Jumat (20/2). LP Ma’arif merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan organisasi NU (Nahdlotul Ulama). Mulyani membenarkan hal tersebut. Guru di kalangan santri NU mendapat tempat yang sangat terhormat.

Ketika ditanya tentang arti guru, Mulyani menngungkapkan guru adalah orang yang patut dihormati di sekolah selain orang tua di rumah. Bahkan, sebagai penghormatan atas jasa gurunya, seorang santri harus menghormati anak dari guru tersebut. “Hal ini sangat baik membentuk watak atau akhlak yang punya sopan santun, budi luhur, dan menghargai orang yang berjasa besar dalam hidupnya (santri) kepada orang yang memberi ilmu,” ujar pengajar Bahasa Indonesia di SMA 5 Semarang ini.

Dalam kitab tersebut juga disebutkan adab santri kepada gurunya yang dianalogikan sebagai timba (ember untuk mengambil air) dan sumur. Timba sebagai santri, dan sumur yaitu sumber air, diumpamakan sebagai guru yang memiliki banyak ilmu. Seorang murid jika ingin mendapat ilmu yang bermanfaat harus mendatangi tempat guru yang kaya ilmu.

Peran Guru Les Private

Sebagaimana yang dialami guru les, peristiwa di atas justru berjalan terbalik. Ada beberapa guru les yang mendatangi rumah anak didiknya untuk mengajarkan ilmu. Menanggapi persolaan ini Mulyani berpendapat guru datang ke rumah murid atau tidak, harus ada kesepakatan dari ke dua belah pihak. Kalau memang sistem mengharuskan guru datang ke rumah anak didik, itu sah-sah saja. Asalkan alasan tersebut tidak dijadikan anak didik berperilaku kurangajar atau menyepelekan guru.

Menurutnya hal ini sama saja dengan para pendakwah atau da’i yang datang ke daerah-daerah menyambangi umatnya untuk menyampaikan syiar Islam. Pada zaman dahulu para pujangga juga datang ke keraton untuk memberikan ilmu.

Yang perlu ditekankan adalah niat mendatangi anak didik harus dalam konteks kebaikan, yaitu menularkan ilmunya kepada mereka. Bukan karena niat yang buruk semisal memberi les karena ingin mendapatkan keuntungan materi yang banyak. “Yang terpenting, maksud mendatangi itu memang benar-benar untuk niat yang baik,” katanya.

Selanjutnya dalam memberi ilmu, Jasa guru les private seharusnya memiliki niat yang baik, ia harus mengajar sekaligus mendidik. Artinya, mengajar adalah menyampaikan ilmu pengetahuan saja. Sedangkan mendidik selain mengajarkan pengetahuan, lebih menekankan pada pembentukan perilaku.

Mulyani mengungkapkan selama ini guru les hanya terpaku pada mengajar saja, setelah memberi les, dibayar lalu selesai tugasnya. “Meskipun hanya berprofesi sebagai guru les, masalah sikap, perilaku dan sopan santun anak didik kepada guru les adalah hal utama yang harus diperhatikan di samping sebagai pengajar,” tuturnya. Mulyani mempunyai alasan bahwa guru les adalah orang yang sama-sama memiliki ilmu lebih selayaknya guru di sekolah formal. Guru les juga wajib menyampaikan ilmu itu sehingga mereka berhak mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari anak didik.

Hampir sama dengan yang diungkapkan Mulyani, Rahmat Suprapto, S.Ag, M.Si., Sekretaris Majelis DIKDASMEN (Pendidikan Dasar dan Menengah) Muhammadiyah Kota Semarang mengungkapkan selama ini guru les hanya sebagai transfer of knowledge bukan transfer of value. Maksudnya guru les hanya memberikan ilmu tanpa memperhatikan nilai anak didik seperti sikap dan adab.

Rahmat menjelaskan dalam perspektif Jawa, guru adalah sosok yang digugu lan ditiru. Artinya apa yang dilakukan guru akan menjadi suri tauladan bagi anak didik. Bagi guru, memberi contoh sikap yang baik kepada anak didik adalah bagian dari proses mendidik.

Keadaan di masyarakat memang menempatkan guru les hanya sebatas mengajar anak didik agar lebih pintar dalam mata pelajaran tertentu. Guru les hanya mengajarkan materi-materi pokok tanpa mengajar secara keseluruhan. Biasanya guru les mengajar setelah ada permasalahan dari anak didik. Hal ini disebabkan waktu mengajar guru les yang sempit. Maka guru les hanya mengajar secara instan.

Keluarga yang mampu dari segi ekonomi akan lebih mudah mendatangkan guru les ke dalam rumah. Kedatangan mereka diharapkan mampu mendongkrak rasa percaya diri anak didik dalam menguasai mata pelajaran tertentu. Rasa percaya diri ini menjadi prestise tersendiri bagi anak didik di sekolah. Apalagi di sekolah yang persaingannya ketat. Guru les semakin dicari dari kalangan anak didik yang bersekolah di sekolah unggul dan golongan ekonomi mampu tentunya. “Orang tua seperti ini berpikiran pragmatis. Mereka menginginkan anak didiknya pintar secara instan,” ujar Rahmat yang juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Semarang ini.

Dalam hubungan simbiosis mutualisme, kebutuhan keluarga mampu ini mendatangkan keuntungan bagi guru les. Dari menjual jasa les, para guru ini dapat meraup keuntungan berupa materi.

Sementara itu, Septiyana Atik Purwandani, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI jurusan 2006 ini mengaku menjadi guru les bukan hanya karena alasan materi saja.

Septi menuturkan ia sudah menjadi guru sejak awal kuliah. Di semester awal ia sudah mempunyai dua anak didik. Di samping itu ia juga merangkap menjadi guru relawan di kampungnya. Di sana ia mengajar anak-anak SD sebanyak 17 dalam satu kelas. Tidak digaji.

Kira-kira mulai semester empat, ia mulai memikirkan fee. Karena semakin terdesak kebutuhan, ia mulai mendatangi rumah-rumah di sekitar tempat tingalnya untuk menjadi guru les privat. Mulanya hanya 2 anak, sekarang ia memiliki 7 murid privat.

Jika memberi les karena alasan materi, ia tidak memungkiri hal tersebut. Namun diakuinya materi bukanlah hal yang utama. “Yang penting anak memahami apa yang saya ajarkan. Menurutku itulah sesungguhnya kepuasan dan kebahagiaan sebagai guru les privat,” ujarnya seraya menjelaskan kuliah tetap menjadi prioritas utama.

Persoalan bukan hanya terletak bagaimana seorang guru les bisa membuat anak didiknya memahami suatu materi tertentu. Persoalan kadang muncul terkait perlakuan dari orang tua dan anak didik yang kadang menyita kesabarannya. Tentang hal ini Septi bercerita. Pernah suatu ketika ia disuruh anak didiknya mengerjalan PR. Anak didiknya berdalih keesokan harinya ia ada ulangan dan harus belajar. Ia menolaknya. “Sakit hati rasanya,” ujarnya.

“Kejadian lainnya pernah ada anak didik yang memintaku mendampingi mengerjakan PR. Semua cara aku ajarkan bagaimana menjawabnya dengan benar dari nomor satu sampai selesai.”

Keesokan harinya saat mengumpulkan PR itu, sang guru bertanya karena tumben si anak mendapat nilai 100. Karena anak-anak polos dia menjawab, “Sama Mbak Septi, guru les saya.” Lalu guru itu memutuskan memotong nilainya menjadi 50. Pulang ke rumah anak itu menangis dan berlanjut pada teguran orang tua padanya. Baca juga artikel mengenai Pelayanan Jasa Detektif Swasta Di Jakarta

Septi mengakui cara kerjanya sangat dipengaruhi kemauan orang tua. Ada orang tua yang meminta untuk mengerjakan hal yang sama dengan apa yang diajarkan di sekolah. Termasuk membantu mengerjakan PR dan mempersiapkan anak didik jika akan ada ulangan. Ada juga orangtua yang menginginkan anak didik mendapatkan sesuatu yang lebih di luar materi yang diajarkan di sekolah. Pokoknya tergantung apa yang diminta orang tua anak didik.

Guru les saharusnya menyadari tugas mereka sebagai guru bukan hanya mengajar saja, namun, juga harus mendidik sehingga kedudukan guru les lebih dihargai para orang tua dan anak didik.